Sejarah Hang Tuah Hulubalang Melayu



Hikayat Hang Tuah, Antara Sejarah dan Mitos

Judul: Hikajat Hang Tuah Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta (Cetakan ke-3, 1956) Tebal: 511 halaman *** NAMA Hang Tuah bisa dipastikan tak asing di telinga banyak orang. Sama halnya dengan banyak tokoh yang dianggap berperan dalam sejarah bangsa ini, nama Hang Tuah pun diabadikan pada ruas-ruas jalan di Jakarta dan di beberapa daerah lain lagi. Bahkan, nama Hang Tuah juga diabadikan pada kapal perang pertama milik Indonesia. Pemberian nama itu untuk mengenang kejayaan Hang Tuah yang selalu mencapai kemenangan di laut. Namun, tidak seperti tokoh-tokoh bersejarah lainnya, tak banyak yang tahu siapa Hang Tuah yang diabadikan namanya itu? Apa perannya dalam sejarah negeri ini?

Memang, bisa dikatakan, keterangan tentang siapa dan apa kiprah Hang Tuah tidak ditemukan dalam literatur-literatur sejarah. Beberapa waktu lalu pernah diangkat kisah-kisah tokoh melayu, termasuk Hang Tuah ini, dalam berbagai versi seperti sandiwara radio maupun tayangan sinema di televisi. Tetap saja, Hang Tuah hanya dikenal sebatas tokoh terkenal dari daerah Melayu.

Tak banyak yang tahu kisah Hang Tuah yang dituliskan dalam sebuah buku berjudul Hikajat Hang Tuah tercatat sebagai karya sastra melayu klasik yang paling panjang. Salah satu versi Hikajat Hang Tuah adalah setebal 593 halaman. Buku berisikan Hang Tuah ini dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu disebutkan sangat menarik perhatian para peneliti barat. Hikajat Hang Tuah kemudian sangat terkenal, terbit dalam berbagai versi, dan sekitar 20 buku tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia.

PADA buku Hikajat Hang Tuah terbitan Balai Pustaka, kisah tokoh yang di Malaysia dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional ini diuraikan dalam 24 bab panjang. Pada pengantar disebutkan, buku tersebut disalin dari salah satu naskah tulis tangan huruf Arab. Pada sampul bagian dalam tertulis: “Inilah hikajat Hang Tuah jang amat setiawan kepada tuannja dan terlalu sangat berbuat kebadjikan kepada tuannja”.

Kisah dimulai dengan bab yang menguraikan asal muasal raja-raja di Malaka atau Melayu. Dengan diantar oleh kata-kata: “Sekali peristiwa…”, diceritakan tentang seorang raja keinderaan (kayangan-Red) Sang Pertala Dewa, yang akan mempunyai seorang anak dan dia akan menjadi raja di Bukit Seguntang. Keturunan-keturunan sang dewa inilah dengan segala kemuliaan yang dimiliki kemudian menjadi raja-raja di tanah Melayu.

Hang Tuah diceritakan sebagai anak Hang Mahmud. Dikisahkan, setelah mendengar kabar gembira tentang negeri Bintan sudah mempunyai seorang raja yang tak lain adalah cucu dari Sang Pertala Dewa, Hang Mahmud pun bergegas mengajak istri dan anaknya pindah ke sana. Di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama-sama, seperti lima orang bersaudara.

Suatu hari, Hang Tuah mengusulkan pada keempat sahabatnya untuk pergi berlayar dan merantau bersama-sama. Empat sahabatnya pun setuju, dan mereka berangkat berlayar. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dan menundukkan tiga perahu yang ternyata adalah musuh Bintan dari Siantan. Kawanan tersebut tak lain adalah kaki tangan Patih Gajah Mada dari Majapahit yang ingin memperluas kekuasaan dengan merompak di Tanah Palembang. Akhirnya, lima sekawan itu diangkat menjadi abdi salah seorang pemimpin di negeri Bintan, yang dipanggil Bendahara Paduka Raja. Dari sinilah kisah perjuangan Hang Tuah yang akhirnya justru mendapat gelar laksamana dari Raja Majapahit dimulai.

Dalam buku, terutama melalui tokoh Hang Tuah dan Patih Gajah Mada, dikisahkan adanya persaingan kejayaan antara Malaka dan Majapahit. Gajah Mada tidak digambarkan sebagai tokoh yang mulia ataupun bijaksana. Ia digambarkan dalam sosok yang begitu berkuasa dan ambisius. Beberapa kali ia menyusun rencana untuk menghabisi Hang Tuah yang dianggap sebagai batu penghalang rencananya untuk menguasai Malaka. Berbicara soal musuh, dalam menjalankan tugas sebagai abdi yang setia dan disegani, Hang Tuah pun di negerinya sendiri beberapa kali harus dibuang bahkan hendak dibunuh akibat fitnah. Fitnah itu sebegitu rupa sehingga salah seorang sahabatnya, yaitu Hang Jebat, pun berkhianat.

Hang Tuah memang membawa Malaka pada kejayaan. Tidak hanya ia berhasil membendung serangan dari Majapahit. Ke mana saja ia diutus dan apa pun tugas yang diemban, selalu membuahkan hasil. Namun, dengan masuknya orang-orang dari Eropa, terutama Belanda, akhirnya kejayaan Malaka dihancurleburkan. Pada bagian akhir dikisahkan, Malaka jatuh ke tangan orang-orang dari Johor dan Belanda. Hang Tuah sendiri dikisahkan masih hidup dan tinggal di negeri Batak, menjadi wali agama dan raja.

DEMIKIAN cuplikan kisah tokoh bernama Hang Tuah dari salah satu versi terbitan Balai Pustaka. Tak ada yang tahu, siapa sesungguhnya pengarang Hikajat Hang Tuah. Tahun persis kapan pertama kali kisah ini muncul pun hingga kini tak bisa dipastikan. Tak ubahnya karya-karya sastra kuno umumnya, kisah Hang Tuah ini pun diduga pertama kali dikenal berupa cerita lisan. Kemudian, dalam bentuk naskah tertulis, Hikajat Hang Tuah diduga pertama kali ditulis pada abad ke-16.

Menurut Prof Dr Sulastin Sutrisno (lihat Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi) yang pernah mengangkat Hikajat Hang Tuah menjadi sebuah disertasi, siapa pengarang sesungguhnya memang sulit dipastikan. Namun, yang jelas, karya tersebut mengundang kekaguman sendiri. Sebagai sebuah kisah fiktif, Hikajat Hang Tuah sarat dengan muatan sejarah. Nama-nama kerajaan dan tokoh memang lekat dengan apa yang tercantum dalam catatan-catatan sejarah. Bahkan ada dugaan, pengarang Hang Tuah tidak hanya berpengetahuan luas karena sarat dengan muatan sejarah, namun juga banyak menggunakan sumber sastra lain. Dugaan ini muncul karena pada beberapa bagian, terdapat kemiripan dengan cerita-cerita klasik lain seperti Kisah Panji, Hikajat Sri Rama, dan sebagainya.

Salah seorang ahli sastra, Sir Richard Windstedt, menyebutkan, karya sastra klasik seperti Hikajat Hang Tuah ini identik dengan syair-syair bermuatan kisah kepahlawanan yang banyak dihasilkan di Jawa pada abad ke-11. Karya-karya ini dikatakan mengubah sejarah menjadi mitos, atau sebaliknya mengubah mitos menjadi sejarah. Dalam Hikajat Hang Tuah, nuansa fiktif maupun mitos di antaranya terwakili melalui ketiadaan keterangan waktu dalam setiap peristiwa, kehadiran negeri kayangan yang dipimpin Sang Pertala Dewa maupun perubahan wujud Hang Tuah menjadi harimau dalam sebuah perkelahian (hal 164).

Tokoh Hang Tuah sendiri pun tak bisa dipastikan sebagai tokoh mitos atau sejarah, meskipun dalam Sejarah Melayu (Malay Annals) disebutkan Hang Tuah mati di abad ke-15. Kitab tersebut, Sejarah Melayu-disusun oleh Mansur Shah salah seorang penguasa di Malaka-yang mencantumkan riwayat Hang Tuah pun diragukan oleh berbagai kalangan. Sir Richard Winstedt menyebutkan, Mansur Shah, dalam Sejarah Melayu, mampu mengangkat legenda tentang seorang pejuang bernama Hang Tuah yang tumbuh saat terjadi perang antara Jawa dan Tamil. Akan tetapi, seperti dikatakan di atas, hampir tidak dapat dibedakan yang mana sejarah dan yang mana mitos. Namun, untuk tokoh seperti Hang Tuah, siapa lagi yang peduli bahwa itu mitos atau sejarah selama dia menjadi ilham etika publik?

Wallahualam.

About these ads

Perihal Sifuli

Bicara tentang makan minum, tidur baring, dan beranak pinak yang membina adat resam untuk kehidupan rohani, jasmani, jiwa dan raga. Diantara weblog Sifuli yang popular adalah seperti berikut: Dukun Asmara bicara tentang beranak pinak. Hipnotis Sifuli bicara tentang tidur baring. Jalan Akhirat bicara tentang adat resam (agama) Doa Ayat dan Zikir untuk rohani jasmani jiwa dan raga. Jika tak suka sekali pun janganlah tinggalkan komentar yang keterlaluan. Kerana segalanya adalah sekadar ilmu pengetahuan. Wasalam.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sejarah Hang Tuah Hulubalang Melayu

  1. kemas ari says:

    Berasal dari Indonesia (di Bukit Seguntang/Palembang,) menjadi Pahlawan di negeri Malaysia, semoga Hangtuah bisa menjadi tokoh pemersatu atas terpecahnya 2 saudara serumpun…….

  2. Salam semua, tiga hari lalu saya telah berjumpa dengan TS, beliau punyai salasilah disebelah Bugis dan Sumatra. Buku berkenaan Hang Tuah yang ditulis oleh Tun Sri Lanang juga bersama beliau. Perbezaan diantara penulisan Tun Sri Lanang dan information yang terdapat dari UUK (undang-undang Kedah) yang lama, yang telah dikembalikan semula kepada Malaysia beberapa tahun dahaulu, oleh UK, perbezaannya ialah:
    1. Tun Sri Lanang menceritakan yang Hang Tuah adalah anak raja Bajung bernama Mahmud, yang mana telah meninggal dunia masa Hang Tuah masih kecil lagi (mungkin bay lagi), Tetapi, nasib Hang Tuah telah dapat di”lihat” oleh bapa saudara atau tok saudaranya, atau nendanya (gelaran tak ingat) tapi beliau ialah ADIPUTRA sendiri (later on jadi guru Hang Tuah), lalu beliau mempersembahkan lah Hang Tuah yang dikatakan anak BERTUAH atau membawa TUAH itu kepada baginda sultan Sultan Mansur Syah itu, kerana sultan itu pun cucunya juga.

    2. Merah silu pula berkata, Hang Tuah adalah Tun Saaban iaitu anak kepada Sultan Mansur Syah, dan adik kepada Mahmud Syah sendiri.

    Lantaran pening kepala, mana satu nak percaya ni, kerana Hang Tuah adalah tok nenek Tok Pasai, dan Tok Pasai adaalah MOyang saya sendiri, maka nya saya diatas nasihat TS telah membuat munajat dan berzikir untuk diberi petunjuk sapa Hang Tuah sebenarnya, sama ada anak Raja Bajun Hang Mahmud atau pun anak kepada Sultan Mansur Syah itu? Saya berzikir sampai tertidur dalam zikir,
    tiba-tiba “Kedua-duanya betul, anak Hang Mahmud Raja Bajung itu, dan juga ‘anak’ Sultan Mansur Syah pada public, sebab ia dijadikan “anak” juga oleh Sultan Mansur Syah itu, kerana ada hubungan darah diantara keduanya. Nama diBeri ialah Tun Saaban, tetapi budak itu kerana kesan Tuah nya terlalu beasa maka ialah lebih dikenali dengan Hang Tuah. Saya diberi tahu “Hang” adalah bersal dari perkataan gelaran seperti Daeng, Raden bagi orang Bajung -Bugis tu. Dan Tuah tu fahamlah keran beliau dikatakan bertuah maka jdilah Hang Tuah.
    Disebabkan beliau dibesarkan sebagai anak kepada Sultana Mansur Syah, lalu orang yang membuat cerita itu telah menulinsya sebagai anak Sultan Mansur Syah.

    Jadi keduanya betul juga – iaitu orang yang sama. Yang pentingnya ialah “blood line” Hang Tuah dari ADIPUTRA, melalui beberapa generasi – dua atau tiga, sampai kepada Hang Tuah. Fakta utama, Bapa Hang Tuah telah meninggal semasa beliau masih terlalu kecil lagi, dan oran yang mengetahui keTuahan nya ialah AdiPutra itu sendiri. Demi untuk menjaga keturunan Han Tuah lalu dipersembahkanlah Hang Tuah kepada Raja, asal anak Raja – kena besar dalam keluarga diraja lah juga.

    Terpulang kepada penerimaan masing2, tapi saya memangnya terima “pengetahuan” ini dengan lapang dada. Jika sesiapa ada maklumat lebih lanjut tolong kongsikan.

    Sekarang saya nak minta tolong carikan kepada saya

    1.SIAPAKAH dia PANGLIMA DEWA SHAHDAN yang memerdekakan Langkat dari Aceh dan Deli itu, dan menjadikan dirinya sebagai Sultan Langkat yang pertama= nama sebenarnnya, asal dari mana, anak sapa dia (ibu dan ayahnya, tok dan neneknya sampai keatas)

    2. Siapakah nama sebenar kepada RAJA INDRA SAKTI iaitu anak Panglima Dewa Shahdan itu yang menjadi Sultan Langkat yang kedua. Siapa ibu beliau, anak siapakah dia dari mana asala ibu nya itu.

    3. Siapakah nama sebenar Raja Kahar iaitu anak kepada Raja Indra Sakti itu, Siapa isteri Indra Sakti atau ibu kepada Raja Kahar itu, dari mana asal usulnya.

    4. Siapa nama isteriatau isteri-isteri Sultan Bendahara Raja Badi us-Zaman ibni almarhum Raja Kahar itu – agar saya dapat trace siapa moyang perempuan saya itu.

    Saya nak cari sebab saya tahu yang Panglima Dewa Shadan bukanlah nama sebenar beliau, begitu juga denga Raja Indra Sakti dan Raja Kahar.

    Bagi sesiapa yang ada maklumat atau tahu lead ke maklumat itu tolonglah beritahu saya.

    Sekian. Terima kasih.

  3. aliif says:

    hang tuah ader g…kat bukit keluang kadang2…saidina syeikh bulkhiah nur amin nama tertutup kut …..sallam laa kat beliau…roger

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s